Mengenal Suku Laut di sudut Batam

0
149

Suku Laut merupakan suatu etnis atau suku bangsa yang terdapat di wilayah Kepulauan Riau. Mereka hidup di atas perahu dan selalu berpindah-pindah tergantung kepada iklim dan musim.

View perahu atau kajang orang suku laut saat berselisih dgn kayak canoe para petualang bahari Sekilak Adventures disekitar kawasan industri kabil batamView perahu atau kajang orang suku laut saat berselisih dgn kayak canoe para petualang bahari Sekilak Adventures disekitar kawasan industri kabil batam

 

Mereka bukan nelayan umumnya yang saat malam pergi melaut dan saat siang datang, pulang kembali ke daratan. Mereka adalah nelayan yang ‘pantang’ pulang ke daratan. Setiap jengkal hidup mereka habiskan di laut. Sejak fajar menyingsing hingga matahari menghilang di ujung timur cakrawala. Mulai dari makan hingga minum. Mulai dari terbangun hingga terlelap. Bahkan untuk bercinta dan melahirkan sekalipun, mereka lakukan di atas laut. Di dalam sampan yang mereka namakan Kajang.

 

Seperti inilah Suku Laut menjalani hidup dan kehidupan. Di atas laut yang luas dan terbuka.

 

Bagi suku laut, laut telah menjadi takdir. Sesuatu yang sepertinya mutlak harus mereka terima sebagai sebuah kehidupan. Hampir semua kehidupan mereka tak terpisahkan dari laut. Air laut yang asin, anyir bangkai ikan, ombak, bakau, serta sinar matahari yang membakar adalah sesuatu yang mereka telan setiap hari. Suku laut dan laut telah menjadi sebuah kesetiaan. Tidak terpisahkan.

 

Dari laut lah Suku Laut mengais hidup. Saat malam bergerak naik, dan air laut mulai surut, mereka mulai menyulut lampu petromak. Begitu lampu menyala terang, dengan hanya berbekal dayung dan tombak, mereka bergerak menuju tengah lautan. Berburu sotong atau cumi-cumi, Ikan Ribam, Nos, Pari atau jika beruntung bisa membawa pulang duyung.

 

SEJARAH SINGKAT SUKU LAUT & KOTA BATAM

Pulau Batam dimasa lalu

 

“Tidak banyak yang memberi catatan tentang  Pulau Batam”.  Demikian pengakuan Pemerintah Kota Batam melalui buku profilnya.

Batam sempat di sebutkan  pada Traktat London Tahun 1824. Dari naskah kuno milik Raja Kamarudin, salah satu tokoh di wilayah Kampung Melayu Jodoh, di terangkan bahwa tokoh penduduk Melayu sejak jaman raja-raja Kerajaan Riau, banyak yang menikah dengan orang-orang bugis.

 

Suku laut kepulauan riauSuku laut kepulauan riau

 

Orang bugis yang jiwanya pelaut dan perantau itu sering memakai Pulau Batam sebagai Batang atau jembatan untuk melanjutkan perjalanan di lautnya. Mereka sering mengatakan pulau itu sebagai pulau Batang, maka lambat laun penduduk asli mengatakan pulau Batam.

 

Sedangkan Riau merupakan asal kata dari riuh, yang artinya ramai. Pasalnya sejak aman Kerajaan Melayu memang di kenal dengan riuh. Sayangnya naskah milik Raja Kamarudin  tidak bisa di selamatkan saat kebakaran yang memusnahkan Kampung Melayu.

 

Tengker melintasi selat philips singapura - batamTengker melintasi selat philips singapura – batam

Berikut catatan Naskah milik Raja Kamarudin.

Tahun 231 M, Pulau Batam telah duni suku laut. Suku laut adalah suku melay asli yang mendiami pulau-pulau di selat Malaka dan Selat Singapore. Tahun 1300 M, Pulau Batam di kuasai oleh Kerajaan Tumasik yang berada di Pulau Singapore sekarang. Pada masa Kerajaan Malaka Berjaya,Pulau Batam dikuasai Kerajaan Malaka dengan pengawasan Laksamana Hang Tuah. Setelah kerajaan Malaka jatuh, Pulau Batam di kuasai Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Pulau Bentan, atau sekarang Pulau Bintan.

 

View sungai ladi dengan jembatanya yg menghubungkan daerah nagoya & sekupangView sungai ladi dengan jembatanya yg menghubungkan daerah nagoya & sekupang

 

Sepeninggal Hang Nadim, Pulau Batam di bawah pengaruh Sultan Johor. Sekitar tahun 1800 hadir Kerajaan Riau Lingga yang menguasai Kepulauan Riau termasuk Pulau Batam, yaitu Yang Dipertuan Muda  Riau sampai berakhirnya Kerajaan Melayu Riau yang berpusat di Lingga berpisah dengan Kerajaan Johor, maka Yang Dipertuan Besar kemudian  Kerajaan Melayu Lingga Riau dimekarkan menjaid tiga kesultanan, yakni Kesultanan di Daek Lingga, Kesultann Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat dan Tumenggung Abdul Jamal di Pulau Bulang.

Kedatangan orang Belanda yang semula hanya berdagang pada akhirnya menjajah seluruh Nusantara termasuk Pulau Batam dalam genggamannnya. Penjajah Belanda sering di rompak di daerah Selat Malaka, diantara perompak itu adalah Laksamana Ladi, yang sreing sembunyi di sungai. Sekarang sungai tempat persembunyiannya itu di sebut Sei Ladi yang kini telah berubah menjadi Dam Sei Ladi.

 

View suasana lalulintas di dam sei ladi sekarangView suasana lalulintas di dam sei ladi sekarang

Sejarah Singkat Suku Laut Batam

 Beberapa sejarah mencatat bahwa suku Laut ini terbentuk dari lima periode kekuasaan. yakni masa Batin (kepala klan), Kesultanan Melaka-Johor dan Riau-Lingga, Belanda (1911—42), Jepang (1942—45), dan Republik Indonesia (1949 sampai sekarang) (Chou, 2003:25). Adapun yang mengatakan bahwa suku Laut ini asalnya adalah para perompak yang memiliki pengaruh kuat pada masa kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor.Suku Laut berperan untuk menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut. Di Indonesia, penyebutan suku bangsa ini biasa dikenal sebagai ‘Orang Laut’ (sea people) atau ‘Suku Sampan’ (boat tribe/sampan tribe) yang juga terdapat pada wilayah psisir lainnya. Sedangkan dalam berbagai karya etnografi mengenai masyarakat yang hidup di laut dan berpidah di kawasan Asia Tenggara, kita temukan beberapa macam sebutan, seperti ‘sea nomads’, ‘sea folk’, ‘sea hunters and gatherers’ (Sopher, 1977; Chou, 2003:2; Lenhart, 2004:750), dan dalam bahasa Thai disebut Cho Lai atau Chaw Talay (Granbom, 2005; Katanchaleekul, 2007). Meskipun demikian, oleh orang Melayu Riau kepulauan mereka lebih dikenal sebagai ‘Orang Laut’ (Chou, 2003:2).Keberadaan suku Laut dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan pengaruh ajaran Islam yang menyebar lewat lautan dan perdagangan. Sistem kepercayaan yang dianut oleh suku Laut sendiri masih keprecayaan Animisme, meskipun sebagian yang lain memeluk agama Islam dan itu pun masih bercampur dengan kepercayaan nenek moyang.

Orang menyebutnya Suku Laut karena suku ini hidup mengembara di laut serta memiliki ciri-ciri yang khusus seperti melakukan aktivitas sehari-hari di atas perahu dan mengembara di sepanjang perairan. Pada umumnya, Suku laut memiliki kebudayaan yang sama yang masih sederhana, baik sosial maupun teknologi.

Kawasan yang mereka diami adalah, sepanjang perbatasan RI dengan Singapura, Malaysia dan Vietnam, tepatnya pada 4º15-0º48’LS dan 103º10’BT – 109º00’BT. Maka secara geografis mereka mendiami wilayah strategis yang merupakan silang pelayaran internasional yang padat antara Selat Malaka, Selat Philip, Selat Singapura dan Laut Cina Selatan.

Sebab itulah kehidupan mereka menarik perhatian. Karena Suku Laut yang berpindah-pindah itu, kadang tanpa sengaja sering melintasi perbatasan tanpa jalur resmi. Sehingga tanpa sadar, merekapun kadang-kadang sudah berdiam diperairan nagara lain, karena kehidupan di atas perahu yang berpindah-pindah itu.

 

 

Diantara jenis mata pencaharian mereka yang utama adalah memancing, menangkap / menombak ikan. Anak suku laut sejak berumur 12 tahun telah dapat menangkap ikan. Mereka terlatih menombak ikan dengan tepat pada jarak 10 meter. Oleh karena itu, Laut adalah ladang mereka yang sangat mengikat, dimana mereka hidup berkelompok untuk mencari ikan dengan berpindah-pindah tempat dari satu pulau ke pulau lain, dan jarang mendarat kecuali untuk mengambil air atau menjual ikan kepada “Tauke”.

Alasan mereka mencari tauke adalah untuk menjual hasil tangkapan ikan mereka, biasanya dari tauke mereka mendapatkan beras, gula, baju-baju bekas dan kebutuhan lainnya sebagai pengganti ikan yang di jualnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah kehidupan suku laut yang masih di atas perahu itu dilakukan di perahu yang berukuran relatif kecil 1,5 x 5 meter. Diatas perahu itulah semua kehidupan mereka berlangsung. Tinggal, memasak nasi, mencuci, membakar ikan, tidur sampai peresmian perkawinan pun dilangsungkan di atas perahu.

Secara fisik Suku Laut terkenal tangguh menghadapi tantangan badai di laut, karena pengetahuan mengenai arah mata angin, cuaca, dan  pasang surut laut di rabanya secara tradisional dan naluriah. Namun demikian kehidupan  sosial mereka tetap tidak berdaya menghadapi belenggu kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan dari berbagai aspek kehidupan.

Kepercayaan masyarakat suku laut terhadap hal-hal yang berbau   mistik dan tahayul dianut mereka, sehingga upacara tradisional yang bersifat ritual sering mereka lakukan, biasanya dalam kampung mereka ada seorang yang memimpin yang disebut Kepala Suku. Kepala suku inilah yang dapat menentukan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh warganya.

 

Suku Laut : Ekonomi Dan Pendidikan Yang Tertinggal 

Pemukiman keluarga orang suku laut yg menetap di sebuah pulau kecil sekitar tanjung piayu & jembatan barelang batamPemukiman keluarga orang suku laut yg menetap di sebuah pulau kecil sekitar tanjung piayu & jembatan barelang batam

Suku Laut, atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku yang menghuni Kepulauan Riau, salah satu provinsi di barat pulau Sumatera. Istilah Orang Laut mencakup berbagai suku yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir serta pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.

Kondisi kepulauan, Riau yang terdiri atas 96 % lautan sangat mendukung bagi sebagian besar warga Suku Laut yang bekerja turun-temurun sebagai nelayan tradisional. Pekerjaan dengan tingkat penghasilan relatif kecil ini sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat Suku Laut dan berimbas pada tingkat kesejahteraan mereka yang  memiliki persentase kemiskinan mencapai 7,40% pada periode Maret 2011.

 

View pemukiman orang suku laut di daerah lingga yang dibangun atas bantuan pemerintah agar mereka mau tinggal & menetap di darat.View pemukiman orang suku laut di daerah lingga yang dibangun atas bantuan pemerintah agar mereka mau tinggal & menetap di darat.

Sebagian besar masyarakat Suku Laut yang berjumlah sekitar 300 kepala keluarga belum memiliki rumah permanen, ditambah penghasilan melaut yang tidak seberapa. Hasil tangkapan terbanyak adalah Ikan  Senangin yang harganya cukup mahal, sekitar Rp 23.000 per kilogram, dan Ikan Otek seharga Rp 5.000 per kg. Namun hanya sebagian nelayan yang memiliki alat menangkap ikan dan jarring yang memadai serta mempunyai kemampuan melaut yang mengikuti perkembangan zaman, sehingga hasil tangkapan yang didapat stagnan dan tidak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Dengan pengaruh minimnya kesejahteraan ekonomi tersebut, anak-anak Suku Laut banyak yang terpaksa mengalami putus sekolah karena tidak ada biaya. Banyak diantaranya yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, dan pada usia anak-anak harus bekerja layaknya orang dewasa. Tingkat partisipasi pendidikan masyarakat Kepulauan Riau tertinggi adalah di tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan persentase 99.35 %. Pada tahun 2010 dan semakin menurun saat mencapai tingkat SMA. Sangat jarang kita melihat anak-anak Suku Laut yang berhasil membuka bisnis kecil-kecilan, menjadi guru maupun polisi. Menjadi Sarjana ataupun Pejabat Pemerintahan pun rasanya jauh dari angan.

Pendidikan masyarakat nelayan suku laut masih sangat rendah, tidak banyak yang mengenyam pendidikan sampai jenjang sekolah menengah atas, “Kebanyakan warganyai hanya lulusan sekolah dasar, setelah itu langsung ikut orang tuanya melaut.

 

Nenek moyang ku seorang pelaut…

 

Namun sebenarnya, masyarakat Suku Laut memiliki potensi yang cukup besar untuk mengangkat perekonomian dan pendidikan masyarakatnya. Secara geografis mereka mendiami wilayah strategis yang merupakan silang pelayaran internasional yang padat antara Selat Malaka, Selat Philip, Selat Singapura dan Laut Cina Selatan.

Permasalahan Suku Laut adalah tidak mampu mengelola dan mendistribusikan hasil tangkapannya, yang banyak dikelola oleh pihak penampung dengan harga murah. Ini memprihatinkan dan membuat masyarakat Suku Laut menjadi semakin tertinggal.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah diadakan upaya peningkatan SDM Suku Laut, Bantuan permodalan untuk membeli perahu atau pompon, dan konsentrasi pada pendidikan. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius bagi Pemerintah pusat dan juga Pemda.

Indonesia di kenal sebagai negara maratim, berpulau-pulau, hingga mengapa sebutan nenek moyangku seorang pelaut itu mungkin karena alat trasnportasi yang digunakan pada zaman dahulu untuk berpindah dari suatu temapt ketempat lain dan segala aktifitas mereka selama perjalanan yang lama itu mereka lakukan di atas sebuh kapal atau perahu, karena sebagian besar kehidupan mereka dilakukan di atas kapal atau perahu maka mereka disebut seorang pelaut. gitu kali ya?. ya kalau salah maaf ya, saya bukan orang sejarah.

namun saya tidak membahasa itu, kita akan membahas mengenai perjalanan suku laut, mengarungi hidupnya.. kalao ada salah tolong di koreksi ya..

 

SUKU LAUT 

Banyak istilah mengenai pengertian dari suku laut, ada yang mengatakan suku laut adalah suatu kelompok masyarakat nelayan yang kehidupannya atau pekerjaannya mencari nafkah di laut seperti halnya nelayan dan tinggal di pingir laut. namun ada juga yang mengatakan bahwa suku laut adalah suatu kelompok masyarakat yang seluruh aktifitasnya di lakukan di atas laut atau sungai, seperti memasak dan sebagainya.

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu dan digolongkan sebagai Bahasa Melayu Lokal. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan.  Dari beberapa potret mengenai suku laut, suku laut tidak hanya tergantung pada laut untuk mencari nafkah namun juga segala kehidupan mereka tergantung dengan laut, bahkan beberapa potret menunjukan bahwa perahu-perahu yang mereka  gunakan memiki fungsi sebagai alat untuk mencari nafkah dan tempat tinggal.

Seperti suku Bajau Orang Laut kadang-kadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu. Mereka tidak mendiami suatu pulau sebagai daerahnya, mereka selalu mengembara untuk hidup mencarai nafkah dimana laut menyiadakan, walaupun demikian suku laut juga terkadang mampir kesuatu daratan untuk bertahan dari badai dan cuaca laut yang buruk, ataupun hanya sekedar untuk menukar bahan makanan yang mereka butuhkan.

 

Oh iya, pandangan mengenai suku laut sekarang sudah berbeda, jika halnya dahulu segala aktifitas mereka mulai dari memasak hingga menikah di atas sebuh sampan/perahu dalam istilah kita, namun meraka menyebutnya “Kajang” yaitu sebuah sampan yang berfungsi sebagai alat transportasi sekaligus tempat tinggal mereka. saat ini kehidupan seperti itu sudah jarang ditemui terutama di Kepulauan Riau. Sejak Batam di tahun 90-an suku laut di daerah ini mulai terus berbenah, kehidupan masyarakat suku laut di sekitar Batam mulai berubah. Mereka pun kemudian menetap dalam sebuah rumah di tepi laut di beberapa pulau seperti Tanjung Sauh, Kubung, dan Todak yang letaknya tak jauh dari Pulau Ngenang dan berada di dalam lingkungan pemerintahan Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa.

Belakangan ini eksistensi suku Laut semakin terancam oleh desakan nelayan bermodal besar dari berbagai daerah atau mancanegara yang memiliki teknologi modern. Mereka lebih gesit mencari ikan karena menggunakan kapal besar yang dilengkapi radar pemantau ikan dan navigasi canggih. Demi menangkap berton-ton ikan secara cepat, mereka tidak segan menggunakan jaring pukat atau kunsi, dinamit, dan bahan kimia seperti putas. Akibatnya, ekosistem laut semakin rusak dan banyak ikan yang masih kecil terbunuh sia-sia.

Hemm rasanya sayang sekali jika nyanyian nenek moyangku seorang pelaut tinggal nyanyian saja, ketika nanti anak cucu kita mendapati suku laut tinggalah sebuah cerita zaman ayah atau ibunya.

Perkampungan melayu di pesisir pulau batam sebahagian besar berasal dari keturunan suku laut bugis

Hal unik mencari pasangan hidup orang suku laut.

Ada bebeapa permainan khas tradisi orang suku laut untuk mencari pasangan hidup.

1. Dalam hal mencari jodoh para wanita suku laut akan melakukan sebuah perlombaan sampan atau perahu dengan calon pria pasangannya. Apabila calon pria kalah dari si wanita maka pria tersebut gagal meninangnya.

2. Selain itu ada juga permainan pukul bantal yaitu sebuah permainan dimana sang wanita harus menghindar dari pukulan bantal dari calon sang pria yang ditentukan 3 kali kesempatan bagi wanita terkena pukulan.

 

Info :

Bagi orang suku laut kata ” Bangkai ” adalah sebutan untuk orang yang telah mati (meninggal). Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua…

 

 

sumber : klik disini

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%