Mengenal Terusan Kra, Jangkar Pembunuh Ekonomi Maritim Indonesia

0
103

Tahukah Anda bahwa saat ini sedang berlangsung proyek raksasa pembangunan Terusan Kra di Thailand. Diyakini, Terusan Kra ini nantinya akan mem”BUNUH” Ekonomi Maritim Indonesia. Proyek ini sudah dimulai tahun 2015, dan diperkirakan akan selesai tahun 2025.

 

 

Proyek raksasa ini bernama Canal Kra Project (Proyek Terusan Kra) yang melibatkan Pemerintah Thailand dan Tiongkok (Cina). Terusan ini panjangnya 120 km dan lebar 500 meter. Terusan ini akan memotong jalur laut dari Laut China Selatan menuju Samudera Hindia. Setelah proyek ini selesai, Terusan Kra akan membunuh ekonomi 3 negara untuk jalur perdagangan internasional, yakni: Indonesia, Singapura, dan Malaysia, yang selama ini dikenal sebagai negara yg menguasai selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur lalu-lintas utama kapal dari samudera Hindia ke samudera Pasifik.

Terusan Kra ini akan menjadi jalan pintas, sehingga banyak kapal tidak akan lagi melewati selat Malaka. Dampak dari adanya Terusan Kra ini, bisa dipastikan akan berimbas kepada pemasukan 3 negara penguasa selat Malaka.

Sebagai perbandingan hari ini, hampir 80.000 kapal cargo melewati selat Malaka atau sekitar 220 kapal per hari yang tiap kapalnya memerlukan biaya sekitar 300.000 dollar atau Rp 4 milyar sekali melintas. Kalau Terusan Kra sudah dipakai, maka bisa dibayangkan berapa besar kerugian 3 negara tersebut terutama indonesia. Dan sialnya, kerugian 3 negara ini justru akan dikonversi menjadi keuntungan bagi Thailand yang akan menguasai terusan Kra tersebut. Bahkan menurut skenario terburuknya, indonesialah yang akan menderita kerugian paling terburuk kalau sampai selat Malaka ditinggalkan sebagai jalur perdagangan internasional. Kita akan merugi sekitar 11 milyar dollar atau Rp 143 Triliun per tahun.

Terusan Kra ini sendiri pasti akan sangat ramai dan diminati para pengusaha cargo dan kapal tangker. Selain karena bisa memperpendek jarak yang hanya 1.200 mil laut ketimbang memutari selat Malaka, ditambah di selat Malaka juga memiliki resiko yg jauh lebih besar karena di daerah ini sering nongkrong para perompak selat Malaka yang sudah terkenal selama berabad-abad menyatroni perairan ini, dan hal ini semakin diperburuk oleh gerombolan teroris semacam Abu Sayyaf. Gerombolan ini juga sering menculik dan menjarah kapal-kapal di daerah selat Malaka ini.

Adanya gerombolam perompak seperti yang masih ditemui di Selat Malaka nantinya tidak akan ditemui di Terusan Kra. China akan menempatkan pangkalan militer besarnya bila perebutan Laut China Selatan dimenangkan oleh China. Untuk masalah ini, Thailand jauh hari sudah menggandeng China, dan bahkan pemerintah Thailand sudah membuat MoU guna membagi pengelolaan Terusan Kra ini dengan China (China-Thailand Kra Infrastructure Investment and Development dan Asia Union Group pada 19 Mei 2015).

Jadi bisa dipastikan, saat Terusan Kra nanti dibuka tahun 2025, semua jalur pelayaran perdagangan (bukan tujuan ketiga negara tersebut) akan melewati jalur itu saja ketimbang menghabiskan biaya operasional untuk melewati selat Malaka, kecuali destinasi dan asalnya dari negara-negara di sekitar Selat Malaka. Industri-industri kargo di pelabuhan besar indonesia, seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Tanjung si Api-Api, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Subang, Pelabuhan Trisakti, dll tidak lagi menjadi Pelabuhan laut internasional.

Selain dampaknya pada ekonomi maritim Indonesia, negara-negara lain akan melirik negara-negara yang paling dekat Terusan Kra ini untuk menanamkan modalnya, ketimbang memilih Indonesia yang terus-menerus asyik dengan sentimen SARA & memanasnya tensi politik yang tak jelas arah-tujuannya. PMA yang ada di Indonesia akan banyak yang pindah mendekat ke jalur ekonomi maritim dunia terbaru Terusan Kra ini. Otomatis, banyak buruh akan di-PHK-kan. Pengangguran akan semakin bertambah. Ekonomi kita akan semakin lesu, bukan hanya stagnan.

Indonesia yang selama ini dikenal sebagai “Poros Maritim Dunia” hanya akan tinggal menjadi kenangan. Sebaiknya Indonesia memikirkan jalur alternatif lain untuk mengkonversi pendapatan dari jalur maritim dan berinovasi untuk membuat ekonomi bangsa ini semakin maju. Indonesia harus berlomba-lomba mengembangkan teknologi-teknologi terbaru yang bisa dijual di pasar dunia, bukan terus-menerus gontok-gontokan dengan politik identitas yang konyol dan khas Bigot itu. Anehnya, kata Pribumi, Aseng-Asing, Kafir, dan sentimen SARA lainnya masih laku sebagai jualan politik untuk hanya sekedar mendapatkan dukungan politik sesaat. (Sumber:Bernat Siregar – HSZ)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%