Tidak tahu terimakasih!!!

0
166

Teman-teman. Ada kisah tentang seorang dermawan. Dia, rajin memberi kepada siapa saja. Tetapi, itu dulu. Sekarang dia sudah tidak lagi berderma kepada siapapun.
Orang pada heran. Mengapa dia jadi seperti itu. Padahal, Tuhan telah memberinya anugerah berupa kecukupan bahkan kelebihan yang bisa dengan leluasa digunakannya untuk bersedekah. Tapi dia tidak lakukan.

Setiap tindakan manusia tentu ada yang melatarbelakanginya. Termasuk berubahnya sang dermawan itu. Selama ini dia telah memberi kepada banyak orang. Tetapi orang-orang itu tidak tahu berterimakasih. Sebenarnya dia tidak butuh ucapan terimakasih. Niatnya memberi itu tulus kok. Tetapi didalam hati dia berpikir, bukankah sudah sepantasnya manusia berterimakasih kepada orang yang memberinya? Itu bagian dari sopan santun dan tata krama.

Dia membayar taksi melebihi argo. Tapi, sopirnya tidak berterimakasih. Kalau parkir, dia memberi tambahan. Tak ada tukang parkir yang berterima kasih. Diputeran jalan, dia menyodorkan bukan koin recehan. Tak ada pak ogah yang berterimakasih. Pantas saja hidup mereka susah. Karena mereka tidak tahu terimakasih. Kalau tidak tahu terimakasih begitu, mana ada orang yang mau memberinya lagi. Belajarlah berterimakasih. Biar orang tidak kapok bersedekah. Begitu pikirnya.

Suatu saat, dia tiba disebuah jalan sempit yang sering dilewatinya. Biasanya disitu ada pengatur jalan yang diupah dari koin gopean pengendara yang lewat. Orangnya kurus, tua, dan pincang. Wajahnya, melukiskan derita dan kesusahan. Dulu dia suka memberi juga. Tentu, tidak pernah hanya 500an. Dia memberi lebih banyak dibanding pengendara lainnya. Tapi dia sudah lama berhenti memberi. Karena orang itu juga tidak tahu terimakasih.

Jangankan terimakasih. Muka datarnya saja tidak berubah setiap kali menerima sedekah. Tak ada senyum. Atau anggukan kepala. Mukanya beku membatu. Hanya tangan keriput gemetarnya saja yang sigap menyambar uang pemberiannya. Tapi tak ada kata terimakasih yang diucapkannya.
Kali ini. Jalan sempit itu mampet. Mobil dari kedua arah saling berebut. Akhirnya tidak ada yang bisa lewat. “Orang tukang ngatur jalan ini kemana?” Tanyanya kepada penduduk setempat.

“Meninggal Pak. Kemarin.” Jawabnya. Untuk sesaat, ada rasa ‘deg’ dalam hatinya. Tapi, kematian kan soal biasa. Tak perlu lebay. Cukup bersimpati sewajarnya saja. “Siapa namanya?” Lanjutnya.

“Wah, kami juga tidak tahu pak…” jawabnya. Lho kok tidak tahu sih. Bagaimana ini. Orang bertetangga kok tidak saling kenal. “Kami hanya menyebutnya Pak Tua,” jelas penduduk.

“Ya ditanya dong. Masa kok pada cuek saja.” Tegurnya. “Sudah pak,” jawab orang itu. “Tapi Pak Tua itu tidak bisa mendengar. Tidak bisa bicara. Buta huruf pula.” Rasa deg itu kini berubah jadi menusuk. “Dengar-dengar sih dia kena stroke sejak masih kecil. Lalu hidup sebatang kara…” dan rasa menusuk itu pun kini berubah menjadi hunjaman bilah tajam kedalam sanubarinya.

Orang itu sekarang paham. Kenapa Pak Tua itu tidak pernah sekalipun berterimaksih kepadanya. Tidak pula sekedar tersenyum untuk menunjukkan kebahagiaan menerima upah lebih dari biasanya. Atau rasa syukur ketika menerima pemberiannya. Tapi pemahaman itu datamg terlambat. Dia sudah lama meninggalkan pak Tua. Bersama segala kesulitan yang melanda hidupnya. Dengan prasangka dan mengiranya tidak tahu terimakasih. Padahal, dia memang tidak bisa mengucapkannya.

Tiba-tiba saja air matanya meleleh. Dia mendadak teringat bahwa dia sendiri pun tidak pernah mengucapkan kata terimakasih untuk kedua matanya yang sempurna. Untuk jantungnya yang tidak pernah berhenti berdegup. Untuk sekujur tubuhnya yang berfungsi sebagaimana mestinya.
Andai Tuhan hanya memberi kepada orang yang berucap ‘terimakasih’…
Sumber : dadangkadarusman.com

Yuk, LIKE dan FOLLOW terus Batam Pop untuk dapat update artikel di fanpage :

 

Baca juga : Cara berbisnis online dari Android.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%